Beuh.. ngeri banget judulnya.
Woohoo! Saatnya sharing tentang apa yang gue gelisahkan! Malam Minggu, minggu kedua bulan ini. Apa? Minggu ketiga? Di jadwal postingan gue, kalau minggu pertama dimulai dari Hari Jum’at atau Sabtu ngga gue masukkan dalam perhitungan minggu pertama. Gitu.
Ngomongin tentang kebanyakan orangtua Di Indonesia, yang entah kenapa bikin gue ngerasa sedikit terganggu oleh opini-opini mereka yang selalu mendewakan pendidikan akademik adalah sesuatu yang jauh lebih keren dibandingkan dengan non akademik. Mereka sama-sama penting, kok.
Dari artinya aja udah jelas beda, akademik itu untuk pelajaran eksak yang emang umum untuk dipelajari dan universal juga karena dari semua macam sekolah dan jurusan bisa mendapatkan eksak yang sama dan lebih ke teori. Kalau non akademik lebih ke sesuatu yang dipelajari prakteknya, seperti ekstrakulikuler olahraga dan seni. Mengapa mereka harus dibandingkan? Jelaskan akademik dan non akademik itu ngga bisa dibandingkan. Mereka berbeda.
Bukan bermaksud jadi propokatif dengan membahas hal yang udah lumrah jadi keseharian Di Indonesia dari sudut pandang gue—anak. Gue hanya mencoba membagi keresahan gue, siapa tau ada yang bisa ngasih ide untuk kedepannya biar ngga ada lagi orangtua yang membandingkan anaknya yang tidak bisa mendapatkan peringkat di kelas, tetapi mempunyai kelebihan di bidang lain.
Sebagai seorang anak, kami pun ingin didengar.. kami tidak bermaksud untuk membantah pilihan yang sudah kalian pilih untuk kami, yang menurut kalian adalah pilihan yang terbaik. Kami tau kalian sangat tau apa yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi kami pun memiliki hak untuk berbicara dan memilih akan seperti apa kami di kemudian hari. Dan meskipun kami tidak bisa sempurna di mata kalian, kami juga selalu berharap bisa membanggakan kalian, membawa kalian menuju tangga yang lebih baik, kami butuh dukungan moral untuk mencari dan melanjutkan apa yang menjadi mimpi-mimpi bagi kami yang kami harap bisa terwujud. Give us a chance..believe us. So, we’ll show you the best things that we have.
Waktu sekolah, gue bukan tipe anak-anak yang selalu bisa menempati posisi sepuluh besar di kelas—walaupun pernah beberapa kali. Gue pemalas, terlebih lagi kalau guru pengajar kurang bisa membuat gue tertarik untuk menyukai apa yang mereka ajari dan ngga tau kenapa, setiap pelajaran seni budaya selalu suka meskipun guru yang mengajar kurang gue sukai. Gue selalu mengerjakan PR dan tugas-tugasnya dengan sepenuh hati.
Tapi, kenapa gue ngambil Psikologi saat masuk kuliah? Haha. Ya apalagi kalau bukan karena orangtua. Gue suka menggambar dan selalu memposting di akun Instagram gue—@pucilanak. Waktu awal mendaftarkan diri, yang terlintas adalah DKV, Graphic Design, Interior Design, dan Arsitektur.
Ya mana maulah ibu sama ayah gue yang notabennya sangat menjunjung tinggi tingkat keakademisan pendidikan anaknya membiarkan gue masuk jurusan non akademis, meskipun background sekolah tertinggi mereka hanya di SMA.
Katanya, “Ya lebih keren aja nanti kerjanya bisa di kantor terus nanti nikah sama PNS, kan gajinya gede daripada kalau ngambil jurusan DKV yang selain lebih mahal biaya kuliah dan keperluannya, setelah lulus nanti kamu jadi apa? Tukang gambar?” speechless. Pendek banget kan mikirnya. Daripada dikutuk jadi batu, gue milih manut dan ya, as you know guys, I’m psychology student now..
Duh. Mak, di luar negri tuh yang kerjanya gambar doang gajinya lebih keren daripada yang cuma duduk-duduk di kursi kantor ngerjain kerjaan kantor yang udah pasti menyita waktu juga.. dan yaaaa, karena gue tinggal Di Indonesia dan memimpikan memiliki pekerjaan sebagai seniman ngga akan bisa gue perdalam di dunia perkuliahan. Gue tetap cinta Indonesia (dari segala kekurangan juga kelebihannya) dan menggambar setiap ada waktu luang demi mengatasi kejenuhan gue dari kerja-kuliah-kerja-kerja buat bayar kuliah. Haha.
Dari semua curhatan gue di atas sebenernya ngga bermaksud untuk membuat orangtua menyesal dan gue terkesan menyalahi mereka, engga.. gue cuma mau hubungan antara orangtua dan anak itu bisa berjalan dengan baik karena adanya komunikasi. Ya ngga masalah kalau orangtua mau anaknya melanjutkan ke bidang akademis, tapi yang perlu diingat di sini adalah anak yang nantinya akan menjalani hidup setelah kalian sudah memutuskan pilihan yang udah kalian anggap sebagai pilihan yang terbaik.
Tapi (lagi), apa orangtua pernah mikir, pilihan yang kalian anggap sebagai pilihan yang terbaik itu bisa menjadi baik untuk si anak atau engga?