Sabtu, 16 Desember 2017

Renungan Malam Minggu yang Ada Giveawaynya?

Holla!

Selamat malam minggu, gue menyediakan bacaan untuk temen-temen yang-dari pada bosen malam minggu hujan, ngga bisa keluar rumah. Gue buat tulisan inisiatif sambil nunggu hujan reda. Yap, gue yang malam minggu malah kehujanan, sendirian pula.

Di postingan kali ini gue mau sedikit insyaf dan berhenti selengean kayak di postingan-postingan sebelumnya. Setelah memutuskan gonta-ganti judul padahal udah buat 1 draft-yang emang belum selesai karena ngerasa stuck, gue memutuskan untuk sedikit mengajak temen-temen yang baca memikirkan hal-hal yang sudah terlewati sepanjang tahun 2017.

Sabtu, 11 November 2017

Cewek Nembak Cowok?

Peek—a—boo!

Ada cewek yang ngerasa aneh setelah liat judul dari postingan kali ini? Haha, pasti banyak. Sebelum kalian menjudge gue murahan—atau apapun, (tulisan ini gue persembahkan untuk salah satu teman kerja gue, Rifai—yang bilang gue murahan karena gue pamer, udah nembak cowok duluan. Kambing kau nak!:)) lebih baik kalian baca beberapa tulisan tentang RA Kartini dengan menuliskan “Ibu Kartini dalam memperjuangkan emansipasi kaumnya” dengan atau tanpa tanda kutip di search engine deh.

Nggak bermaksud menjadi propokatif atau meninggikan diri karena sudah menjalankan emansipasi yang lumayan sering disindir dari beberapa temen cowok gue ke gue, dan yang pasti gue menulis ini hanya untuk bertukar pikiran apalagi sengaja melakukan hal ini untuk taruhan. Bukan. Bukan banget. Secara, gue tinggal di Indonesia yang notabennenya nggak Indonesia banget aja gitu kalau cewek nembak cowok duluan. Paling pentingnya lagi, I feel free to hear your comments. So, please.. jangan sungkan-sungkan untuk left your komentar yaaa:)

--

“Alah, anak cewek mah emansipasi juga maunya dibagian yang enak-enaknya aja!”
“..dibayarin, dianter-jemput, disayang-sayang, diperhatiin,—“ dan di-di lain yang sangat menyenangkan untuk perempuan tapi cukup menggaknjal di hati kaum laki-laki kali yaaa.

Mungkin dalam hati mereka bilang, “Gantian kek!” Haha.

Jumat, 13 Oktober 2017

Berpikir Positif

Ba. Ba. Ba. Ba. Ba. Na. Na. Banana~

Hupla!

Hari Sabtu, minggu kedua. Seperti dipostingan sebelumnya, gue bilang akan menyempatkan memposting minimal 1 kali dalam sebulan tulisan yang ga penting ini.

Ah! I really love that I woke up feelin' this way~

Dimulai dari kembali masuk kelas setelah 3 pertemuan absen karena ada beberapa kerjaan di tempat gue kerja yang mengharuskan gue untuk lembur. Setelah masuk, ternyata PR gue makin banyak, -ala2 bikin miniskripsi yang sampai hari ini masih babak revisi, tugas EO, -bikin acara seminar, tiba-tiba masuk langsung presentasi, dan kuis. Hyaaaaak! Fortunately, it's almost done!

Sabtu, 16 September 2017

Ngomongin Tentang (kebanyakan) Orangtua Indonesia


Beuh.. ngeri banget judulnya.

Woohoo! Saatnya sharing tentang apa yang gue gelisahkan! Malam Minggu, minggu kedua bulan ini. Apa? Minggu ketiga? Di jadwal postingan gue, kalau minggu pertama dimulai dari Hari Jum’at atau Sabtu ngga gue masukkan dalam perhitungan minggu pertama. Gitu.

Ngomongin tentang kebanyakan orangtua Di Indonesia, yang entah kenapa bikin gue ngerasa sedikit terganggu oleh opini-opini mereka yang selalu mendewakan pendidikan akademik adalah sesuatu yang jauh lebih keren dibandingkan dengan non akademik. Mereka sama-sama penting, kok.

Dari artinya aja udah jelas beda, akademik itu untuk pelajaran eksak yang emang umum untuk dipelajari dan universal juga karena dari semua macam sekolah dan jurusan bisa mendapatkan eksak yang sama dan lebih ke teori. Kalau non akademik lebih ke sesuatu yang dipelajari prakteknya, seperti ekstrakulikuler olahraga dan seni. Mengapa mereka harus dibandingkan? Jelaskan akademik dan non akademik itu ngga bisa dibandingkan. Mereka berbeda.

Bukan bermaksud jadi propokatif dengan membahas hal yang udah lumrah jadi keseharian Di Indonesia dari sudut pandang gue—anak. Gue hanya mencoba membagi keresahan gue, siapa tau ada yang bisa ngasih ide untuk kedepannya biar ngga ada lagi orangtua yang membandingkan anaknya yang tidak bisa mendapatkan peringkat di kelas, tetapi mempunyai kelebihan di bidang lain.

Sebagai seorang anak, kami pun ingin didengar.. kami tidak bermaksud untuk membantah pilihan yang sudah kalian pilih untuk kami, yang menurut kalian adalah pilihan yang terbaik. Kami tau kalian sangat tau apa yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi kami pun memiliki hak untuk berbicara dan memilih akan seperti apa kami di kemudian hari. Dan  meskipun kami tidak bisa sempurna di mata kalian, kami juga selalu berharap bisa membanggakan kalian, membawa kalian menuju tangga yang lebih baik, kami butuh dukungan moral untuk mencari dan melanjutkan apa yang menjadi mimpi-mimpi bagi kami yang kami harap bisa terwujud. Give us a chance..believe us. So, we’ll show you the best things that we have.

Waktu sekolah, gue bukan tipe anak-anak yang selalu bisa menempati posisi sepuluh besar di kelas—walaupun pernah beberapa kali. Gue pemalas, terlebih lagi kalau guru pengajar kurang bisa membuat gue tertarik untuk menyukai apa yang mereka ajari dan ngga tau kenapa, setiap pelajaran seni budaya selalu suka meskipun guru yang mengajar kurang gue sukai. Gue selalu mengerjakan PR dan tugas-tugasnya dengan sepenuh hati.

Tapi, kenapa gue ngambil Psikologi saat masuk kuliah? Haha. Ya apalagi kalau bukan karena orangtua. Gue suka menggambar dan selalu memposting di akun Instagram gue—@pucilanak. Waktu awal mendaftarkan diri, yang terlintas adalah DKV, Graphic Design, Interior Design, dan Arsitektur.

Ya mana maulah ibu sama ayah gue yang notabennya sangat menjunjung tinggi tingkat keakademisan pendidikan anaknya membiarkan gue masuk jurusan non akademis, meskipun background sekolah tertinggi mereka hanya di SMA.
Katanya, “Ya lebih keren aja nanti kerjanya bisa di kantor terus nanti nikah sama PNS, kan gajinya gede daripada kalau ngambil jurusan DKV yang selain lebih mahal biaya kuliah dan keperluannya, setelah lulus nanti kamu jadi apa? Tukang gambar?” speechless. Pendek banget kan mikirnya. Daripada dikutuk jadi batu, gue milih manut dan ya, as you know guys, I’m psychology student now..

Duh. Mak, di luar negri tuh yang kerjanya gambar doang gajinya lebih keren daripada yang cuma duduk-duduk di kursi kantor ngerjain kerjaan kantor yang udah pasti menyita waktu juga.. dan yaaaa, karena gue tinggal Di Indonesia dan memimpikan memiliki pekerjaan sebagai seniman ngga akan bisa gue perdalam di dunia perkuliahan. Gue tetap cinta Indonesia (dari segala kekurangan juga kelebihannya) dan menggambar setiap ada waktu luang demi mengatasi kejenuhan gue dari kerja-kuliah-kerja-kerja buat bayar kuliah. Haha.

Dari semua curhatan gue di atas sebenernya ngga bermaksud untuk membuat orangtua menyesal dan gue terkesan menyalahi mereka, engga.. gue cuma mau hubungan antara orangtua dan anak itu bisa berjalan dengan baik karena adanya komunikasi. Ya ngga masalah kalau orangtua mau anaknya melanjutkan ke bidang akademis, tapi yang perlu diingat di sini adalah anak yang nantinya akan menjalani hidup setelah kalian sudah memutuskan pilihan yang udah kalian anggap sebagai pilihan yang terbaik.

Tapi (lagi), apa orangtua pernah mikir, pilihan yang kalian anggap sebagai pilihan yang terbaik itu bisa menjadi baik untuk si anak atau engga?

Jumat, 11 Agustus 2017

Memulai Sesuatu yang Baik


Einstein pernah bilang, "Jika kamu menilai ikan dari caranya memanjat pohon, ikan itu akan selamanya merasa dirinya bodoh." Dan... itulah gambaran sistem pendidikan di Indonesia saat ini. – Kevin Anggara.
Gue hampir selalu mengikuti rekam jejak dari awal doi mulai ngeblog, sampai doi melahirkan sebuah buku. Jujur, gue sempet iri dan mulai terpacu buat membuat sesuatu yang keren juga kayak doi. Doi lebih muda setahun dari gue, tapi doi bisa jauh lebih keren dari gue. Ada sesuatu yang kurang dari gue, kekonsistensian diri. Gue sempet nulis juga, ganti-ganti platform karena gue nggak punya temen yang sehobby (re: nulis) jadi gue males ngelanjutin sesuatu yang udah bikin gue iri.
Nggak lama setelah gue nulis-posting tapi ngga ngeshare ke siapapun karena tengsin liat tampilan blog sendiri, dengan putus asa gue cerita ke salah satu teman gue yang kebetulan punya teman-teman yang punya blog dan lumayan sering nulis juga. Kemudian dia ngasih tau beberapa akun teman-teman yang dimaksud

Minggu, 06 Agustus 2017