Jumat, 11 Agustus 2017

Memulai Sesuatu yang Baik


Einstein pernah bilang, "Jika kamu menilai ikan dari caranya memanjat pohon, ikan itu akan selamanya merasa dirinya bodoh." Dan... itulah gambaran sistem pendidikan di Indonesia saat ini. – Kevin Anggara.
Gue hampir selalu mengikuti rekam jejak dari awal doi mulai ngeblog, sampai doi melahirkan sebuah buku. Jujur, gue sempet iri dan mulai terpacu buat membuat sesuatu yang keren juga kayak doi. Doi lebih muda setahun dari gue, tapi doi bisa jauh lebih keren dari gue. Ada sesuatu yang kurang dari gue, kekonsistensian diri. Gue sempet nulis juga, ganti-ganti platform karena gue nggak punya temen yang sehobby (re: nulis) jadi gue males ngelanjutin sesuatu yang udah bikin gue iri.
Nggak lama setelah gue nulis-posting tapi ngga ngeshare ke siapapun karena tengsin liat tampilan blog sendiri, dengan putus asa gue cerita ke salah satu teman gue yang kebetulan punya teman-teman yang punya blog dan lumayan sering nulis juga. Kemudian dia ngasih tau beberapa akun teman-teman yang dimaksud
.
Singkat cerita, setelah kepoin blog dari teman-temannya—teman gue itu, gue follow salah satu dari mereka yang paling konsisten posting di blognya. Gue DM minta kontaknya, dan... dapat! Untuk ukuran orang yang belum pernah bertemu, dia termasuk baik dalam menaggapi segala keribetan gue.
Dengan semangat yang masih penuh, gue ajakin mereka untuk ketemu. Setelah sudah menentukan tempat dan tanggal untuk bertemu, tiba-tiba dia ragu dan bilang, “Yakin lo mau ikut? Temen-temen gue cowok semua, nanti lo cewek sendirian.” Sebenernya gue nggak mempermasalahkan kalau nantinya saat bertemu I’ll be the one girl among them, karena biasanya gue main juga sering menjadi satu-satunya cewek diantara cowok-cowok-,-
Karena dia bilang begitu, yang gue tangkap saat itu adalah udah ngga usah ketemu dulu. Nanti aja. Akhirnya, gue nggak jadi bertemu untuk sharing tentang blog. Heu. Yodalaaah. Fortunately, sekarang gue udah berteman sama mereka semua dan bebas nanya apapun sesuka hati gue~
Setelah ganti platform dan kembali di blogger, gue mau memulai sesuatu yang baik di kehidupan gue sekarang. Nggak cuma yang di dunia maya aja, di kehidupan sehari-hari gue juga ada yang harus berjalan dengan baik. Bukan berarti kehidupan sebelum memutuskan kembali menulis nggak baik, gue mau apapun yang gue jalani hari ini dan hari kedepannya jadi lebih baik lagi, lagi, lagi, dan lagi..
Dimulai dari konsistennya gue untuk melanjutkan menulis di blog setiap bulan sekali posting tulisan, menggambar, melanjutkan sesuatu yang sudah gue impikan sejak lama juga, memiliki usaha di bidang  fashion, menggambar di tembok, membuat pop card box untuk nambahin uang jajan. Plusnya, bisa nambahin bayaran spp juga. Haha, maruk sekali.
Back to the first paragraph, gue setuju sama pendapat Kevin. Apalagi dengan full day school yang baru mulai berjalan, nggak kebayang anak sekolahan sekarang waktu belajarnya sama kayak jam kerja. Mending kalau dapet jam tidur siang. Jadi, belajarnya di bidang akademik aja, ya? Setiap anak kan terlahir dengan minat, bakat, kemampuan, dan cita-citanya masing-masing.
Nggak adil kalau kita membuat patokan kepintaran seorang anak yang hanya ditentukan dari nilai akademiknya. Gimana kalau ada anak-anak yang berbakat dalam bidang seni namun kreativitasnya harus terkikis karena Indonesia mengukur potensi seorang anak dari sisi akademiknya saja? Nggak adil. Ini ngga adil.
Sering nemu atau bahkan mendengar sekaligus melihat dengan mata kepala sendiri tentang orang tua dan guru-guru di Indonesia, khususnya.. memandang sebelah mata anak-anak yang lebih menyukai menggambar dibandingkan dengan belajar Matematika. Termasuk kedua orang tua gue-,- kesel juga.
Dimana sih, letak salahnya seorang anak yang lebih suka gambar ketimbang menghitung? Toh, bikin gradasi yang enak dipandang mata juga ngga segampang itu. Kalau gue berani bertanya balik, gue pasti nanya “Coba gambar susunan tubuh manusia dari kepala sampai ujung kaki dengan sempurna seperti aslinya.” Apa si pembuat statement ‘Matematika itu lebih penting dari menggambar’ itu bisa melakukannya dengan sempurna seperti peryataan yang ia anggap benar itu?
Orang sejenius Einstein aja bisa bilang, "Jika kamu menilai ikan dari caranya memanjat pohon, ikan itu akan selamanya merasa dirinya bodoh." Just open your mindlaa, kalau Einstein bisa berpikir sejauh itu, kenapa kita nggak bisa berpikiran yang sama sepertinya? Atau setidaknya, menghargai perbedaan yang ada diantara kita. Katanya Indonesia menjunjung nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-nya, kemana dia pergi? Bhinneka tinggal luka? It’s such an irony!
Gue emang cuma anak umur 21 tahun, nggak tau banyak tentang dunia pendidikan yang baik untuk anak-anak di Indonesia itu gimana, tapi gue tau gimana rasanya terus dipaksa belajar seharian dan ketika sampai di rumah, kita harus tetap dipaksa belajar oleh orang tua kita untuk esok harinya.
Percayalah pak.. bu.., olahraga, menggambar, dan segala macam pelajaran di luar jangkauan akademik itu nggak akan ngerusak generasi penerus. Yang bisa merusak generasi penerus itu narkoba, free love, dan kawan-kawannya itu.
Banyak kok orang-orang yang berhasil sukses cuma karena dia bisa main bola, main gitar, jalan di runaway, bikin animasi, nulis skrip dan mempunyai penghasilan yang lebih dari orang-orang yang bekerja sebagai pengajar—yang notabenenya dianggap lebih pintar dari sisi akademik. Mbokya biarin aja gitu lho anaknya lebih suka kemana, kan nantinya dia yang akan menjalani hidupnya sendiri biar nggak melulu tergantung sama orang tuanya.
Gue juga nggak tau, sesuatu yang sedang gue niatkan ini akan berjalan seberapa lama. Gue pastikan, untuk selalu menyempatkan diri untuk mendapatkan me time dengan melakukan hal-hal yang gue suka disela-sela kesibukan gue. Dan lagi, emang ada yang baca ini sampai selesai? Haha. :’D

0 komentar:

Posting Komentar