Selasa, 09 Oktober 2018

What's On October 2018

Holla..

Maafkan pembuat janji ini karena belum bisa menepati janji menulis sebulan sekali. Ah, ini jadi semakin sulit, when you in a bad mood. Banyak sekali keresahan yang belakangan ini gue alami, tapi lagi-lagi harus diperumit oleh diri sendiri yang mudah menyerah, "Mau bahas X, tapi mulai dari mana, ya?"

Gambar-gambar banyak yang belum selesai, tulisan tak kunjung rampung. Rumpang.

Hari ini, 10 Oktober 2018 diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental. Gue akan sedikit membahas tentang stigma, sebelumnya sudah gue jelaskan sedikit juga di @psikoedukasi tapi akan gue ulas lagi ya..

Coping with the Stigma of Mental Illness 
Picture by Google

Definisi dari stigma sendiri adalah anggapan buruk dari orang-orang sekitar terhadap 'sesuatu' yang terlihat 'berbeda'-. Apanya yang berbeda? Perubahan suasana hatinya, meskipun tidak semua perubahan suasana hati dapat diartikan sebagai gangguan mental.

Stigma dari masyarakat terhadap teman-teman kita yang memiliki gangguan mental akan selalu ada, bahkan di negara yang paling maju sekali pun. Masyarakat sering kali mengganggap itu adalah gila. Ingat kasus Marshanda marah-marah kemudian diupload di media sosial? Gue masih ingat sekali tanggapan-tanggapan negatif dari masyarakat yang mengatakan tindakan tersebut sebagai puncak dari gila. Padahal itu puncak dari depresi. Episodenya terbagi menjadi dua; manik/mania (bahagia) dan depresif. Perubahannya bisa sangat fluktuatif, bisa sangat bahagia sampai sangat depresi. Yang dialami Marshanda itu episode depresif.

Gangguan jiwa itu terkait dengan ketidakseimbangan neurotransmitter atau kimiawi otak. Misalnya saja orang dengan depresi diketahui memiliki serotonin yang rendah. Untuk itulah, pada kasus tertentu, dokter meresepkan obat untuk membantu kimiawi otak kembali seimbang. Ini biasanya diberikan bersamaan dengan terapi-terapi lainnya. Profesional yang berhak meresepkan obat adalah seorang Psikiater, bukan Psikolog.

Terkadang, gue pun merasakan sedih dan cemas. Tapi bila gejala sedih dan cemas dirasa sangat berlebihan, lebih baik coba dikonsultasikan kepada pihak-pihak profesional ya.. Tidak perlu merasa malu karena takut dianggap gila. Gue sempat menerima DM, dia sudah didiagnosis bipolar sudah melakukan pengobatan, namun berhenti mengonsumsi obat-sudah tahap remisi. Setelah beberapa bulan, dia malah tidak nyaman pada suatu tempat sampai merasakan pusing, mual, dan deg-degan. Dari sini, kalian pasti sudah mulai mengerti maksud tulisan gue kali ini; betapa pentingnya mengonsultasikan diri pada pihak profesional agar dapat ditangani dengan baik.

((Mohon maaf sekali bila ada yang akan memberi tanggapan: "Ah males curhat ke elu, nanti dijadikan konten" Kak, coba dibaca ulang ya.. (1) gue tidak memberi tau nama orang yang curhat di atas, (2) gue tidak menuliskan isi curhatannya secara keseluruhan, (3) gue hanya menuliskan keluhannya, (4) gue hanya mencoba mendengar-meskipun dalam konteks ini memahami isi ceritanya (read: membaca). Gue akan berusaha sebaik mungkin menjaga rahasia tetap terjaga keamanannya. (**)Bila nanti dia merasa tidak nyaman, paragraf sebelum ini akan gue hapus)).

Kak, teman-teman kita yang mengalami gangguan mental itu sangat butuh didengar, dirangkul keberadaannya.. bukan malah menambah bebannya dengan memperlakukan mereka dengan tidak baik. Gue sempat baca beberapa artikel yang membahas curhatan dari teman-teman bipolar yang mengalami pasung, dikurung di rumah bahkan sampai diruqyah juga. Sebagai budak Psikologi, empati gue berubah menjadi simpati. Akhirnya gue meneteskan air mata, sedih sekali membacanya. Dan, kalian tau? Itu dilakukan oleh keluarganya sendiri, denial. Gue tidak bisa membayangkan menjadi mereka. Kak, gue ulangi ya.. in their whole heart, mereka hanya ingin dimengerti dengan cara didengar. Itu saja. Cukup.

Yuk, berhenti memedulikan stigma yang berkembang di masyarakat. Gue ada rekomendasi klinik yang gue anggap bagus Instagram: @angsamerahclinic. Take a look first dulu kak untuk tau lebih lanjut bisa langsung tanya via DMnya angsa merah ya.. :)

Kita tidak bisa menghapus stigma di masyarakat, but we'll face it!

Kak (siapapun kamu-yang memiliki gangguan mental), You're not alone. Sometimes, it's okay to be not okay. You deserve to be happy!

Selamat Hari Kesehatan Mental Dunia 2018.
Happy World Mental Health Day 2018.

PS: Tulisan ini tidak memiliki emosi, kalian yang memberikan emosi terhadap tulisan gue ini ya.. semoga bisa bermanfaat. Maafkan atas segala kekurangannya ya.. Mari belajar bersama☺️😊

Jumat, 31 Agustus 2018

You did Well

Awal-awal bulan Agustus kemarin gue habiskan dengan melakukan campaign #1000lipstickuntukdifabel. Sampai rela sedikit menguras uang jajan diri sendiri untuk membayar fee 'selebgram' yang jasanya gue pakai juga ngasih secara cuma-cuma produk yg doi mau. And you guys must be know about it.. I got no positive feedback.

Dari yang awalnya, super excited mau bantu Kak Lanin dengan spam share postingan blog yang emang terkait dengan #1000lipstickuntukdifabel sampe males-malesan karena ngerasa useless banget. Semangat di awal-awal aja gitu.. Gimana ngga males? Si selebgram tersebut, setelah dibrief dan dikasih bacaan berupa postingan blog yang ini. Doi malah tiba-tiba bilang "Apa materinya? Kan km belum ngasih, nanti sekalian bikin link di stories biar bisa langsung di swipe up". Umm, rasanya tuh mau teriak di depan mukanya sambil bilang, "Makanya, baca kalau dikasih materi tuh! Mau feenya doang!" Tapi tidak jadi karena pada akhirnya gue bilang, "Silakan baca blog yang sudah kami share ya kak:)" My super ego saved my lyfe.

Ngga berhenti di situ, setelah doi posting muka doi sambil bawa produk yang diminta, cuma doi doang tuh yang dapet like dan komen banyaaaaakkkk. Olshop gue? Ngga ada follower baru ataupun like dari followers doi. Oke, hari pertama. Ah lagian baru 4 jam setelah posting, pikir gue kala itu. Masih dalam rangka menunggu feedback biar gue sama pembeli bisa semakin banyak membantu Kak Lanin menggenapkan 1000 lipsticknya, hari kedua setelah di posting kok masih sepi-sepi aja padahal gue sudah mempersiapkan jari-jari gue untuk membalas apapun itu tentang donasi #1000lipstickuntukdifabel tersebut.

Gue cek dong akunnya doi, memang benar.. gue tidak mendapatkan tanggapan sesuai ekspektasi awal saat memutuskan memilih doi sebagai partner kerja. Sebagai anak baru dalam bidang endorse mengendorse, gue merasa kecil dong. Beruntungnya, ada beberapa teman kelas, kerja dan business buddy yang ikut menyemangati gue dengan ikutan donasi memberikan lipstick. Beragam brand dan shades yang gue terima, ada yang ngasih berupa lipstick, transfer uang, atau membeli lipstick di olshop gue.

It was felt like... heaven. Damai, senang juga terharu pasti. Terimakasih teman2 kelas yang sudah membantu gue menggenapi. Gue menargetkan, bisa mendapatkan 50 lipstick.. nyatanya gue hanya menerima 20 pcs lipstick:') "It's okay.. you did well put.." kata salah satu teman. Setelah dipikr lagi, gue membenarkan hal tersebut mulai legowo, karena meski hanya bisa membantu sedikit, mereka ikhlas dan sudah mempercayakan gue menjadi wadah yang menampung donasi mereka.

Terimakasih sudah membantu dan mempercayai gue:)

Juga, ada hal lucu saat melakukan campaign ini.. Ada pacarnya teman dekat gue yang 'ngambek' karena ikutan donasi lipstick-padahal teman gue donasi dengan memberikan uang cash. Haha. Sampai-sampai menelpon gue +10 kali, meminta dijelaskan. Dengan tenang, gue menuntun mereka untuk mencari akun Kak Laninka kemudian membaca blog gue yang mengajak berpartisipasi. Last but not least, mereka baikan karena cowoknya (teman gue), memang sudah berkata jujur.

Thanks for support them (and also me), we did well guys! Keep spreading love!❤️

Senin, 30 Juli 2018

1000 Lipstick Untuk Difabel

Holla!

Beberapa hari yang lalu, selalu. Waktu gabut gue terkikis saat buka Instagram. Pas buka-buka stories, gue liat postingannya Laninka Siamiyono yang ini gue merasa terpanggil. Simpati gue jadi naik berkali-kali lipat saat mencari tau tentang siapa sih Kak Lanin di akun pribadi miliknya. Dan yang gue dapati setelah stalking her Instagram, Kak Lanin adalah seorang perempuan yang menjadikan make up sebagai alat 'terapi'-nya.

Dari hasil kepo berkepanjangan tersebut ternyata Kak Lanin adalah seorang  beauty vlogger dengan disabilitas. Kak Lanin memiliki rheumatoid arthritis, sebuah peradangan kronis pada sendi yang menyebabkan rasa sakit, bengkak dan kaku pada persendian (misalnya sendi kaki dan tangan). Yang menjadikan dia harus tetap duduk di kursi rodanya.

JLEB!!

Secara fisik, fisik gue jauh lebih sempurna tidak kekurangan sesuatu apapun. Kurangnya gue adalah kurangnya memliki rasa empati terhadap orang lain. Merasa hidup gue paling tidak adil, sengsara, dan hal-hal semacamnya. Dari kak Lanin gue belajar banyak. Salah satunya, kekurangan tidak mengurangi ataupun menghalangi niat baik. Gue merasa jadi orang yang paling buta terhadap hal sekecil itu.

Kak Lanin dengan segala kelemahannya bisa berpikiran setinggi dan mempunyai empati yang sangat besar. Tanggal 18 Juli lalu, Kak Lanin bikin poster #1000lipstickuntukdifabel yang diupliad pada akun pribadinya.. gue pun tergerak untuk memberi sedikit support gue ke Kak Lanin.

Dengan cara apa?

Kebetulan olshop gue menyediakan beberapa macam lipstick, make up dan skincare gitu..

1. Gue mencari influencer yang bisa gue ajak berkerja sama dan sudah gue brief sebelumnya, kalau paid endorse kali ini sedikit berbeda.. ini sekaligus 'menginfluence' followersnya untuk mengetahui apa yang sedang Kak Lanin kerjakan. #1000lipstickuntukdifabel 
 
2. Chillove-nama panggilan untuk pembeli gue-, bisa membeli produk apapun dan setiap orderan dengan minimun transaksi 100rb, sudah gue anggap ikut berdonasi sebesar 5rb. Dan ini berlaku kelipatan. Khusus 3CE Velvet Liptint, yang semula IDR 195 jadi 185, dan sudah gue anggap ikut berdonasi 10rb.

3. Atau, chillove bisa langsung membelikan lipstick/liptintnya untuk didonasikan dengan nama chillove pribadi. Dengan catatan, ongkir kami yang tanggung dan tetap mencantumkan nama kalian karena akan kami kirimkan setelah tanggal 15 Agustus, supaya jumlahnya lumayan banyak.

Kenapa gue tertarik untuk menggerakan #1000lipstickuntukdifabel-nya Kak Lanin?

 Biar ilmu-ilmu tentang Psikologi yang sedang gue pelajari ngga nguap gitu aja. Makanya gue mengajak temen-temen dan chillove untuk ikutan gerakan #1000lipstickuntukdifabel. Gue sering dibilang salah jurusan karena gue memiliki hobby melukis tapi malah memilih masuk Jurusan Psikologi. Kalau ada yang bilang, "Ah lu cuma manfaatin hastag itu buat naikin pamor olshop lu yang baru jalan beberapa bulan doang kan?" Is up to you guys, haha. In my whole heart, gue emang bersungguh-sungguh ingin membantu, memberi dukungan.. ya walaupun ngga seberapa.. gue, temen-temen gue, olshop dan chillove hanya perantara to make her dreams come true.

Di sini gue benar-benar melakukan atas keinginan diri sendiri tanpa keterpaksaan dari pihak manapun. Bahkan, kalau ada chillove yang memang ingin langsung mendonasikan lipsticknya langsung ya, ngga masalah.. Kalau ada yang mau mempercayakan gue ya, gue akan mencoba menjalankan amanah tersebut.. kalau memang setelah gue mengendorse dan I just got nothing (re: positive feedback) ya ndak papa.. setidaknya gue sudah mencoba.

Dan, gue jatuh hati dengan Kak Rara. Untuk chillove yang mau ikutan berdonasi bisa menggunakan kode chilloutxRara untuk mendapatkan diskon 5-10%. Setara dengan melakukan transaksi minimal 100rb akan gue anggap sudah berdonasi sebesar 5rb. Berlaku kelipatan.

**

Pada dasarnya, semua perempuan selalu ingin tampil cantik, minimal dengan menggunakan lipstick bila tidak bisa bermake up seperti orang lain.. tidak hanya orang-orang biasa, teman-teman difabel pun ingin terlihat cantik. Ya, minimal dengan menggunakan lipstick. Sesederhana itu harapan  Kak  Lanin. Dia ingin mengajak teman-teman disabilitasnya untuk tetap percaya diri dan tidak terpuruk oleh kelemahan fisiknya..

"Anything is possible with a little lipstick"
"The power of lipstick!" Katanya.

Nantinya, lipstick-lipstick tersebut akan didonasikan untuk teman-teman difabel. Yhaa, gue juga tidak menargetkan berapa lipstick yang bisa gue kumpulkan nantinya.. lebih dari 10 juga rasanya sudah sangat membahagiakan gue hihi

SYARATNYA: LIPSTICK BARU (brand apapun), SHADE APAPUN. Yang penting, BARU! 


PS: Bisa langsung ngirim lipstick atau uang ke Kak Lanin kok, kalau temen-temen/chillove ngga percaya sama gue. Tujuan gue di sini hanya mempermudah dalam menyediakan apa yang akan didonasikan. Gue tidak pernah memaksa siapapun untuk beli lipsticknya dari gue. Kalian mau ngasih lipstick baru/uang 2 ribu pun dengan senang hati akan gue tampung..

Sharing is caring. Berbagi itu ngga harus mahal, sedikit aja yang penting ada niat baik dan keikhlasan untuk menolong sesama.. ☺️☺️☺️♡♡♡♡♡

Rabu, 27 Juni 2018

The Awkward Question Being Psychology Student

Hae mentemen..


Mungkin sebagian besar dari kalian tau, kalau gue masih berstatus pelajar di jurusan Psikologi. Yap, Psikologi. Bukan Psikolog. Psikolog itu profesinya, dan untuk dipanggil Psikolog itu membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Lulus S1. Ngambil profesi 2 tahun. Setau gue.. eh, ada beberapa test dan wawancara mendalam juga sepertinya.

Gue sering banget mendapati pertanyaan sekaligus peryataan yang bikin gue ngerasa "Ih, apasiiii.." kayak,
"Oh, kuliah di sana. Semester berapa?"
Iya.. semester 4.
"Oh, masih baru kemaren sore ya.." sambil hehe kaku
Iya, anak kemaren sore.. hehe (bales ketawa kaku)
"Jurusan apa neng?"
Psikologi.
"Wah, bisa baca pikiran orang dong!" (excited)

Cuy.. anak-anak yang di jurusan Psikologi tuh, bukan cenayang.. dan, di jurusan Psikologi tuh ngga ada yaa, Mata Kuliah 'Baca Pikiran Orang'-. Kami diajarkan untuk melakukan interpretasi; test-test tertentu untuk mengetahui cara berpikir orang lain, memperhatikan gestur tubuh, dll dsb dst. Dari item-item itu, kami bisa membuat hipotesis tentang kalian, dari serangkaian test dan wawancara, tentunya.

Kami bisa 'membaca orang' dengan tapi. Tapi, kalau kalian 'mau dibaca'-. Temen-temen gue dan kalian sama-sama bisa membaca. Tapi, bila ada sesuatu yang 'terlihat menarik' kalau ngga menarik, ya ngga akan kami baca. Seperti kalian, kami berhak menentukan bacaan kami. Bacaan yang dianggap penting/tidak sama sekali. Mana yang mau dan tidak mau dibaca, harus dibaca atau malah dilupakan saja. Mana bisa psikolog sama orang yang baru konsultasi di pertemuan pertama, baru bertemu 10 menit langsung bisa tau bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang dikeluhkan client? Sedangkan, clientnya hanya diam.

Balik lagi, untuk dimengerti, kamu harus memberi penjelasan terlebih dahulu..

Lagian orang-orang Inodesia typical orang yang males baca kayaknya. Kasus yang gue alami sendiri, gue punya Online Shop. Gue sudah menjelaskan tentang kegunaan produk tak lupa mencantumkan harganya. TAPI, masih ada aja tuh yang suka nanya, "Kak, produk ini harganya berapa, ya? Bisa buat kulit kering ngga?" Id gue rasanya mau mencaci maki. Ego gue rasanya mau nyolot "BACA WOY! BACA!"-. Kemudian super ego gue bertindak dengan menjelaskan ulang dan kembali memberi tau harganya.

Temen-temen yang udah lulus jenjang profesi Psikolgi sekali pun, belum bisa langsung membuka praktek. Kami harus memiliki SRIP (Surat Rekomendasi Izin Praktek) dan NPWP terlebih dahulu. Itupun tetap harus melewati test khusus yaa.. kebayang dong, temen-temen gue harus 'berdarah' untuk mendapatkan itu semua all over again (lagi-lagi-lagi). Haha.

"Duh, gue ngga suka Mata Pelajaran Matematika. Nanti pas kuliah ngambil jurusan Psikologi aja deh."
Ada yang berpikiran seperti itu? Bhaiq, kita temenan. HAHAHA! Jauh sebelum gue masuk jurusan Psikologi pun, sering berpikir dan membuat peryataan persis begitu. Rasanya tuh kayak mau neriakin "Sotoy lu!" ke muka sendiri setelah menjadi pelajar Psikologi. Adik-adik yang mau masuk kuliah di jurusan Psikologi dan berpikiran seperti itu, tolong diperbanyak gugelnya untuk mengakses tentang 'Mata kuliah apa saja yang terdapat di Psikologi' deh. Jangan ngasal banget cem gue gini.

Di jurusan Psikologi tuh ada beberapa mata kuliah yang bersangkutan dengan Matematika. Statistika Psikologi, Psikometri, Kuantitatif, Konstruksi Alat Tes, sama Penyusunan Skala Psikologi yang masing-masing mata kuliahnya itu 3 SKS. Kebetulan, semester ini gue bunuh diri ngambil Mata Kuliah Tes Intelegensi, Psikometri, dan Kuantitatif at once. Seharian gue bermain angka, padahal gue lemah di Matematika. Ironisnya, itu mata kuliah sisa karena gue telat bayaran. Tapi karena itu, gue jadi mengerti keterkaitan antara Tes-tes Psikologi dan bumbu-bumbu perhitungan Psikologi. Gue jadi tau, skripsi nanti akan dipastikan ngga akan melirik Kuantitatif. Titik.

Oiya, gue dapet C+ di Mata Kuliah Statistika Psikologi. LOL, kesel. Karena itu IPK gue turun jadi 2.* pas semester 3. Salah gue, gamau usaha lebih keras.

Gue juga suka kesel sama orang-orang yang sok cerita panjang lebar, dengan berujung ngatain 'gila' untuk orang yang diceritakan karena memiliki kebiasaan yang menurutnya aneh. Nggak boleh cuy, itu namanya labeling.

Lo mau diperlakukan sama kayak gitu juga ngga?

"Ih anaknya si itu, kalau minta mainan baru ngga diturutin sama orangtuanya pasti nangisnya kayak orang kesetanan gitu deh. nakal." atau "Dek, udah dibilangin kalau main tuh dipake sendalnya. Nakal banget siih!" Gimana kalau si anak malah bilang "Biarin, aku mah emang nakal.." terus makin menjadi-jadi 'nakal'-nya? Deep inside  their whole heart is, mereka sangat ingin dimengerti. Mereka butuh perhatian lebih. Begitu pun mereka, yang masih sering dianggap 'gila'-. Gue ngambil contoh di kasus ringan, Anak kecil Tantrum. Beuh bahasa w~

Serunya jadi 'anak Psikologi' kita bisa belajar Biologi lagi, cuy.. yang.. di dalamnya.. membahas.. tentang.. alat.. reproduksi lagi.. Pas SMA, Biologi pasti yang ditunggu-tunggu Bab Reproduksi khan~ Kita belajar itu.. lebih mendalam. Temen-temen yang dulu terpikir ingin mengambil Jurusan Kedokteran tapi terhalang biaya, bisa banget masuk Jurusan Psikologi. Kita mempelajari ilmu-ilmu tentang kedokteran gitu juga! Can you guys imagined, how many skill that we had? Multitasking-talent-fungsi. Haha

Last but not least, tes-tes Psikologi tuh banyak banget macemnyaaaaaaa.. Kunci sukses ngerjain Psikotes bukan dari kunci jawaban tapi istirahat yang cukup, makan teratur juga minum air putih 8 gelas sehari, kalau perlu minum vitamin disarankan kok.. Temen-temen gue bisa aja ngasih tau kunci jawaban dari tes-tesnya, tapi kan kita ngga tau, kalian dites pake alat tes yang mana. So, believe in yourself:)

Kamis, 24 Mei 2018

Apakah Gue Salah Jurusan?

Khan.. mulai males nulis lagi deh:(

Yak! Kenapa gue mulai males nulis lg? Sebenernya ngga males *defensive* jadi gini..
gue mulai membuat olshop yang lumayan menyita waktu luang yang biasanya dipake buat males-malesan, segala sok-sokan belajar cara-cara endorsement dan langsung songong mau ngendorse gituuu, padahal uang jajan aja kurang. Haha

Awkaaay.. di postingan kali ini, gue mau membahas tentang salah jurusan..

Gue.. umm.. sebagai.. anak yang nyangkut dalam jurusan Psikologi, gue suka dianggap salah jurusan gengs.. cediaqutu. 

Kenapa bisa dibilang salah jurusan? Siapa yang bilang begitu?

Minggu, 15 April 2018

Harusnya tidak Menunda

Mulai males nih posting on time, dududu~

Gimana nih long weekendnya? Jalan-jalan keluar rumah atau di dalem rumah aja?
Lumayan banget kan libur empat hari berturut-turut. Iya, gue mah empat hari dong liburnya, dari Hari Jum'at. Yha, Jum'at kemarin gue tumbang. Robot juga butuh istirahat doong. Haha.

Minggu, 18 Maret 2018

Menyehatkan Diri

Duh, keenakan libur sampe telat nulis. Duh..

Akhirnya gue bisa kembali merasakan enaknya libur long weekend. Karena biasanya, setiap weekend gue bolak-balik Jakarta. Di weekdays, gue kerja. Yang artinya, sangat sedikit waktu gue untuk menikmati matahari pagi. Asli gue bener-bener ngerasa dalam seminggu ini gue lalui dengan sedikit lebih baik dalam hal 'tanggung jawab'-, dan gue merasa kalau gue lebih sehat dari minggu-minggu sebelumnya.

Kenapa?