Rabu, 27 Juni 2018

The Awkward Question Being Psychology Student

Hae mentemen..


Mungkin sebagian besar dari kalian tau, kalau gue masih berstatus pelajar di jurusan Psikologi. Yap, Psikologi. Bukan Psikolog. Psikolog itu profesinya, dan untuk dipanggil Psikolog itu membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Lulus S1. Ngambil profesi 2 tahun. Setau gue.. eh, ada beberapa test dan wawancara mendalam juga sepertinya.

Gue sering banget mendapati pertanyaan sekaligus peryataan yang bikin gue ngerasa "Ih, apasiiii.." kayak,
"Oh, kuliah di sana. Semester berapa?"
Iya.. semester 4.
"Oh, masih baru kemaren sore ya.." sambil hehe kaku
Iya, anak kemaren sore.. hehe (bales ketawa kaku)
"Jurusan apa neng?"
Psikologi.
"Wah, bisa baca pikiran orang dong!" (excited)

Cuy.. anak-anak yang di jurusan Psikologi tuh, bukan cenayang.. dan, di jurusan Psikologi tuh ngga ada yaa, Mata Kuliah 'Baca Pikiran Orang'-. Kami diajarkan untuk melakukan interpretasi; test-test tertentu untuk mengetahui cara berpikir orang lain, memperhatikan gestur tubuh, dll dsb dst. Dari item-item itu, kami bisa membuat hipotesis tentang kalian, dari serangkaian test dan wawancara, tentunya.

Kami bisa 'membaca orang' dengan tapi. Tapi, kalau kalian 'mau dibaca'-. Temen-temen gue dan kalian sama-sama bisa membaca. Tapi, bila ada sesuatu yang 'terlihat menarik' kalau ngga menarik, ya ngga akan kami baca. Seperti kalian, kami berhak menentukan bacaan kami. Bacaan yang dianggap penting/tidak sama sekali. Mana yang mau dan tidak mau dibaca, harus dibaca atau malah dilupakan saja. Mana bisa psikolog sama orang yang baru konsultasi di pertemuan pertama, baru bertemu 10 menit langsung bisa tau bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang dikeluhkan client? Sedangkan, clientnya hanya diam.

Balik lagi, untuk dimengerti, kamu harus memberi penjelasan terlebih dahulu..

Lagian orang-orang Inodesia typical orang yang males baca kayaknya. Kasus yang gue alami sendiri, gue punya Online Shop. Gue sudah menjelaskan tentang kegunaan produk tak lupa mencantumkan harganya. TAPI, masih ada aja tuh yang suka nanya, "Kak, produk ini harganya berapa, ya? Bisa buat kulit kering ngga?" Id gue rasanya mau mencaci maki. Ego gue rasanya mau nyolot "BACA WOY! BACA!"-. Kemudian super ego gue bertindak dengan menjelaskan ulang dan kembali memberi tau harganya.

Temen-temen yang udah lulus jenjang profesi Psikolgi sekali pun, belum bisa langsung membuka praktek. Kami harus memiliki SRIP (Surat Rekomendasi Izin Praktek) dan NPWP terlebih dahulu. Itupun tetap harus melewati test khusus yaa.. kebayang dong, temen-temen gue harus 'berdarah' untuk mendapatkan itu semua all over again (lagi-lagi-lagi). Haha.

"Duh, gue ngga suka Mata Pelajaran Matematika. Nanti pas kuliah ngambil jurusan Psikologi aja deh."
Ada yang berpikiran seperti itu? Bhaiq, kita temenan. HAHAHA! Jauh sebelum gue masuk jurusan Psikologi pun, sering berpikir dan membuat peryataan persis begitu. Rasanya tuh kayak mau neriakin "Sotoy lu!" ke muka sendiri setelah menjadi pelajar Psikologi. Adik-adik yang mau masuk kuliah di jurusan Psikologi dan berpikiran seperti itu, tolong diperbanyak gugelnya untuk mengakses tentang 'Mata kuliah apa saja yang terdapat di Psikologi' deh. Jangan ngasal banget cem gue gini.

Di jurusan Psikologi tuh ada beberapa mata kuliah yang bersangkutan dengan Matematika. Statistika Psikologi, Psikometri, Kuantitatif, Konstruksi Alat Tes, sama Penyusunan Skala Psikologi yang masing-masing mata kuliahnya itu 3 SKS. Kebetulan, semester ini gue bunuh diri ngambil Mata Kuliah Tes Intelegensi, Psikometri, dan Kuantitatif at once. Seharian gue bermain angka, padahal gue lemah di Matematika. Ironisnya, itu mata kuliah sisa karena gue telat bayaran. Tapi karena itu, gue jadi mengerti keterkaitan antara Tes-tes Psikologi dan bumbu-bumbu perhitungan Psikologi. Gue jadi tau, skripsi nanti akan dipastikan ngga akan melirik Kuantitatif. Titik.

Oiya, gue dapet C+ di Mata Kuliah Statistika Psikologi. LOL, kesel. Karena itu IPK gue turun jadi 2.* pas semester 3. Salah gue, gamau usaha lebih keras.

Gue juga suka kesel sama orang-orang yang sok cerita panjang lebar, dengan berujung ngatain 'gila' untuk orang yang diceritakan karena memiliki kebiasaan yang menurutnya aneh. Nggak boleh cuy, itu namanya labeling.

Lo mau diperlakukan sama kayak gitu juga ngga?

"Ih anaknya si itu, kalau minta mainan baru ngga diturutin sama orangtuanya pasti nangisnya kayak orang kesetanan gitu deh. nakal." atau "Dek, udah dibilangin kalau main tuh dipake sendalnya. Nakal banget siih!" Gimana kalau si anak malah bilang "Biarin, aku mah emang nakal.." terus makin menjadi-jadi 'nakal'-nya? Deep inside  their whole heart is, mereka sangat ingin dimengerti. Mereka butuh perhatian lebih. Begitu pun mereka, yang masih sering dianggap 'gila'-. Gue ngambil contoh di kasus ringan, Anak kecil Tantrum. Beuh bahasa w~

Serunya jadi 'anak Psikologi' kita bisa belajar Biologi lagi, cuy.. yang.. di dalamnya.. membahas.. tentang.. alat.. reproduksi lagi.. Pas SMA, Biologi pasti yang ditunggu-tunggu Bab Reproduksi khan~ Kita belajar itu.. lebih mendalam. Temen-temen yang dulu terpikir ingin mengambil Jurusan Kedokteran tapi terhalang biaya, bisa banget masuk Jurusan Psikologi. Kita mempelajari ilmu-ilmu tentang kedokteran gitu juga! Can you guys imagined, how many skill that we had? Multitasking-talent-fungsi. Haha

Last but not least, tes-tes Psikologi tuh banyak banget macemnyaaaaaaa.. Kunci sukses ngerjain Psikotes bukan dari kunci jawaban tapi istirahat yang cukup, makan teratur juga minum air putih 8 gelas sehari, kalau perlu minum vitamin disarankan kok.. Temen-temen gue bisa aja ngasih tau kunci jawaban dari tes-tesnya, tapi kan kita ngga tau, kalian dites pake alat tes yang mana. So, believe in yourself:)

1 komentar:

  1. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya,,,,tulisan yang bagus semangat terus dalam berbagi pengalaman nya!!

    BalasHapus