Kamis, 24 Mei 2018

Apakah Gue Salah Jurusan?

Khan.. mulai males nulis lagi deh:(

Yak! Kenapa gue mulai males nulis lg? Sebenernya ngga males *defensive* jadi gini..
gue mulai membuat olshop yang lumayan menyita waktu luang yang biasanya dipake buat males-malesan, segala sok-sokan belajar cara-cara endorsement dan langsung songong mau ngendorse gituuu, padahal uang jajan aja kurang. Haha

Awkaaay.. di postingan kali ini, gue mau membahas tentang salah jurusan..

Gue.. umm.. sebagai.. anak yang nyangkut dalam jurusan Psikologi, gue suka dianggap salah jurusan gengs.. cediaqutu. 

Kenapa bisa dibilang salah jurusan? Siapa yang bilang begitu?


The first things is because I'm (lil' bit) good at draw (and/or painting, etc). The second one, gue suka nerima orderan gambar gitu.. di kanvas, watercolor paper, pop box, totebag, and denim jacket (yang paling baru). Haha. The last onenya mungkin karena temen-temen gue sering ngeliat gue datang ke acara-acara pameran gitu. Bisa juga karena melihat isi feeds akun Instagram gue, yang isinya gambar semua. Juga, sering pamer kalau lagi nyoba belajar sesuatu yang berkaitan dengan seni di stories ig. Yawla, sesempit itukah kalian bilang kalau gue salah jurusan?😢😢

Gengs, akutu suka cedi kalau dibilang salah jurusan begitu haha. Gini-gini, sebelumnya kalian tau ngga perbedaan antara preference, hobby sama passion? It's totally diffrent ya..
Jadi, semisal nanti ada yang nanya lagi, "Suka gambar. Gambarnya bagus-bagus. Kenapa ngga ngambil kuliah jurusan DKV/Desain Grafis/Arsitektur?' dll dsb gitu, gue gantian mau speak up ah, gamau jawab pake senyum bingung lagi. "Drawing is my hobby.." Temen di kelas gue pun ada yang bekerja sebagai ilustrator, my inspirator. 

Kalau drawing itu masuk kedalam hobby, Psychology termasuk yang mana?

Preference. Gue merasa, gue adalah seorang introvert. Jujur, gue selalu gugup public speaking. Meskipun orang-orang yang ada di depan gue adalah temen sekelas, dan gue lumayan menguasai materi. Padahal, temen-temen belum tentu memperhatikan gue. Banyak yang sibuk dengan handphonennya saat ada temannya yang sedang menjelaskan materi.

Gue lebih suka duduk, merhatiin, ngobrol dengan intense. Kayak introvert-introvert kebanyakan, lebih suka menyendiri.

Jadi, kenapa ngambil jurusan psikologi dari sekian banyak jurusan yang ada?

 1. Orangtua gue ngga mengizinkan gue masuk jurusan non-akademik, maunya gue ada di jurusan akademik.
Iya.. gue sempet nekat tetep mau masuk jurusan seni-seni gitu dan pernah 'ngincer' 2 universitas seni di Jakarta dan Jogja karena terlalu mendengarkan pendapat orang lain.

2.  Rekomendasi dari atasan gue di tempat kerja.

3. Bad in public speaking

4. Terapi jalan
LOL!! Haha! Gue juga mau tau dimana the real me berada. Tujuan gue untuk kedepannya gimana.. ya, gue yakin aja gitu saat mendaftarkan diri masuk kedalam jurusan psikologi. Nantinya,gue akan tau hal-hal apa aja yang mau gue lakukan. Belajar melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.

Psikologi dan seni itu bisa jadi sesuatu yang baik dalam waktu yang bersamaan. Melakukan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan seni bisa jadi terapi bipolar juga lhooo. Dari psikologi dan gambar, gue bisa punya uang jajan tambahan. Dari jualan, gue bisa 'menarik' pelanggan gue dengan membuat kalimat naratif, bisa untuk belajar public speaking gue juga biar makin gacor. Dan itu bisa dimulai dari hal-hal sekecil menulis. 😁

Oiya, Di Indonesia sendiri emang ada yang udah terbukti sedikit demi sedikit membaik dan bisa mengendalikan bipolarnya dengan melukis. Inspirator gue dalam perudelan, eh.. perdoodlean. Beberapa karyanya juga ada yang di bawa ke luar negri untuk pameran. Doi aktif dalam kegiatan seni dan kesehatan mental sekarang. Kebetulannya lagi, doi sedang ngadain exhibition sampai tanggal 1 bulan Juni. Uber gacor!


https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2017/11/14/92cb4bee-37df-417f-8b4d-498507a0d22a.jpg?w=780&q=90 
google

Cari tau  sendiri, siapa doi!:P
Jadi, menurut kalian gue salah jurusan ngga? Selain melukis, doi juga suka menulis..

Next post gue ceritain tentang kesehatan mentalnya doi sampai akhirnya bisa kayak sekarang gini, gimana?

0 komentar:

Posting Komentar